Catatan harian Annelies Marie atau yang lebih akrab dikenal Anne Frank, menjadi pusat perhatian dunia. Pasalnya catatan harian Putri kedua pasangan Otto Heinrich Frank dan Edith Holländer merupakan bukti sejarah kekejaman Nazi Jerman—Holocaust, terhadap kaum Yahudi. Bagaiman catatan gadis ini jadi bukti otentik?Anne Frank lahir di Frankfurt am Main, Jerman 12 Juni 1929. Di tahun 1934 Anne bersama Morgot dan ibunya menyusul ayahnya yang setahun lebih dulu pindah ke Amsterdam. Di sana ayahnya membangun usaha makanan yang kontrasi pada bumbu.
Anne sekolah di Montessori school. Anne tergolong siswa yang menonjol di bidang bahasa. Saat usia 12 tahun, ia menyabet juara skating. Anne suka menulis dan bercita-cita berkeliling dunia serta mengusai bahasa. Pada ulangtahunnya yang ke 13 ia mendapat hadiah dari ayahnya sebuah buku tanda tangan. Akan tetapi, Anne menjadikan buku itu sebagai cacatan hariannya. Di diarinya, ia menuliskan segala tentang diri, keluarga hingga perasaannya pada lelaki yang disukainya.
Namun, sejak 15 Mei 1940 kehidupan Anne sebagai keturan Yahudi mulai tertindas. Nazi yang menduduki Amsterdam mewajibkan setiap warga Yahudi wajib lapor. Para Holocaust melarang kaum ini memasuki tempat-tempat yang ditentukan. Perlakuan buruk tertubi-tubi menerpa orang Yahudi, mereka diintimidasi. Begitu juga di sekolah, Anne dikucilkan, karena orangtua teman-temannya melarang mereka mendekati dia.
Perlakuan buruk Nazi terhadap warga Yahudi di Amsterdam semakin menjadi-jadi. Ini membuat Anne sekeluarga memutus bersembunyi di sebuah ruangan gudang pengolahan bumbu. Ruang tersebut ditutupi rak buku yang sekaligus sebagai pintu utama ruangan tersebut. Selama dua tahun dalam persebunyian, asupan makanan keluarga itu dibantu oleh Piem, karyawan kepercayaan Otto. Tapi apa yang terjadi, tempat persembunyian Anne tercium oleh Nazi, karena pengkhiatan pengawas baru perusahaan ayahnya. Selama dalam persembunyian Anne menuliskan segala kekejaman Nazi dalam buku hariannya.
Tahun 1944 Anne sekeluarga dan warga Yahudi lainnya digiring ke “kampung konsentrasi”. Beruntung ayahnya selamat dari perkampungan itu, karena dia mampu meyakinkan komandan Nazi bahwa dia dulunya seorang tentara. Malang bagi Anne, kakak dan ibunya, mereka diangkut ke Westerbork Transit Camp. Meskipun berada di bawah tekanan, Anne tetap saja memiliki aktivitas. Ia mendongengkan untuk anak-anak Yahudi yang berusia 6 tahun di Westerbork Transit Camp. Minimnya sanitisi kampung konsetrasi, sebagian besar tawanan Nazi tersebut kelaparan dan menderita kudis termasuk Anne. Ibunya Anne sendiri meninggal tiga bulan sebelum ajal menjemputnya. Begitu juga dengan Margot, kakakanya, meninggal dipangkuan Anne. Sedangkan ia sendiri menghempuskan napas terakhir awal Maret 1945 bersama 17.000 korban kekejian NAZI di Kamp Bergen-Belsen.




0 komen:
Posting Komentar