twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan diri. Tampilkan semua postingan

Kepemimpinan dalam organisasi

Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional. Banyak muncul pengertian-pengertian mengenai pemimpin dan kepemimpinan, antara lain :


  • Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan kelompok (1942)

  • Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial

  • Brown (1936) berpendapat bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kelompok, akan tetapi boleh dipandang sebagai suatu posisi dengan potensi tinggi di lapangan. Dalam hal sama, Krech dan Crutchfield memandang bahwa dengan kebaikan dari posisinya yang khusus dalam kelompok ia berperan sebagai agen primer untuk penentuan struktur kelompok, suasana kelompok, tujuan kelompok, ideologi kelompok, dan aktivitas kelompok.

  • Kepemimpinan sebagai suatu kemampuan meng-handel orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan friksi sesedikit mungkin dan kerja sama yang besar, kepemimpinan merupakan kekuatan semangat/moral yang kreatif dan terarah.

  • Pemimpin adalah individu yang memiliki program/rencana dan bersama anggota kelompok bergerak untuk mencapai tujuan dengan cara yang pasti.

  • Muncul dua pertanyaan yang menjadi perdebatan mengenai pemimpin,
  • Apakah seorang pemimpin dilahirkan atau ditempat?

  • Apakah efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dialihkan dari satu organisasi ke organisasi yang lain oleh seorang pemimpin yang sama?

  • Untuk menjawab pertanyaan pertama tersebut kita lihat beberapa pendapat berikut :
  • Pihak yang berpendapat bahwa “pemimpin itu dilahirkan” melihat bahwa seseorang hanya akan menjadi pemimpin yang efektif karena dia dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinannya.

  • Kubu yang menyatakan bahwa “pemimpin dibentuk dan ditempa” berpendapat bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dibentuk dan ditempa. Caranya adalah dengan memberikan kesempatan luas kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan efektivitas kepemimpinannya melalui berbagai kegiatan pendidikan dan latihan kepemimpinan.

  • Sondang (1994) menyimpulkan bahwa seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila :
  • seseorang secara genetika telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan

  • bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinannya

  • ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang menyangkut teori kepemimpinan.

  • Untuk menjawab pertannyaan kedua dapat dirumuskan dua kategori yang sudah barang tentu harus dikaji lebih jauh lagi:
  • Keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi dengan sendirinya dapat dilaihkan kepada kepemimpinan oleh orang yang sama di organisasi lain

  • Keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi tidak merupakan jaminan keberhasilannya memimpin organisasi lain.

  • Tipe-tipe Kepemimpinan :

  • Tipe Otokratik

    • Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif.
      Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :
  • kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka

  • pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.

  • Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.

    • Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
    • menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
    • dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
    • bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi
    • menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.
  • Tipe Paternalistik

    • Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan.
      Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan masyarakat. Biasanya tiokoh-toko adat, para ulama dan guru. Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.
  • Tipe Kharismatik

    • Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.
  • Tipe Laissez Faire

    • Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.
      Karakteristik dan gaya kepemimpinan tipe ini adalah :
  • pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif

  • pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pimpinan yang lebih rendah dan kepada petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang nyata-nyata menuntut keterlibatannya langsung.

  • Status quo organisasional tidak terganggu

  • Penumbuhan dan pengembangan kemampuan berpikir dan bertindah yang inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang bersangkutan sendiri.

  • Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan perilaku dan prestasi kerja yang memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada pada tingkat yang minimum.

    • Tipe Demokratik
    • Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.
    • Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan.
    • Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya.
    • Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia
    • Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.
    • Ciri ciri pemimpin dan kepemimpinan yang ideal antara lain :
    • Pengetahuan umum yang luas, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hirarki kepemimpinan organisasi, ia semakin dituntut untuk mampu berpikir dan bertindak secara generalis.
    • Kemampuan Bertumbuh dan Berkembang
    • Sikap yang Inkuisitif atau rasa ingin tahu, merupakan suatu sikap yang mencerminkan dua hal: pertama, tidak merasa puas dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki; kedua, kemauan dan keinginan untuk mencari dan menemukan hal-hal baru.
    • Kemampuan Analitik, efektifitas kepemimpinan seseorang tidak lagi pada kemampuannya melaksanakan kegiatan yang bersifat teknis operasional, melainkan pada kemampuannya untuk berpikir. Cara dan kemampuan berpikir yang diperlukan dalah yang integralistik, strategik dan berorientasi pada pemecahan masalah.
    • Daya Ingat yang Kuat, pemimpin harus mempunyai kemampuan inteletual yang berada di atas kemampuan rata-rata orang-orang yang dipimpinnya, salah satu bentuk kemampuan intelektual adalah daya ingat yang kuat.
    • Kapasitas Integratif, pemimpin harus menjadi seorang integrator dan memiliki pandangan holistik mengenai orgainasi.
    • Keterampilan Berkomunikasi secara Efektif, fungsi komunikasi dalam organisasi antara lain : fungsi motivasi, fungsi ekspresi emosi, fungsi penyampaian informasi dan fungsi pengawasan.
    • Keterampilan Mendidik, memiliki kemampuan menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bawahan, mengubah sikap dan perilakunya dan meningkatkan dedikasinya kepada organisasi.
    • Rasionalitas, semakin tinggi kedudukan manajerial seseorang semakin besar pula tuntutan kepadanya untuk membuktikan kemampuannya untuk berpikir. Hasil pemikiran itu akan terasa dampaknya tidak hanya dalam organisasi, akan tetapi juga dalam hubungan organisasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan di luar organisasi tersebut.
    • Objektivitas, pemimpin diharapkan dan bahkan dituntut berperan sebagai bapak dan penasehat bagi para bawahannya.  Salah satu kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemudikan organisasi terletak pada kemampuannya bertindak secara objektif.
    • Pragmatisme, dalam kehidupan organisasional, sikap yang pragmatis biasanya terwujud dalam bentuk sebagai berikut : pertama, kemampuan menentukan tujuan dan sasaran yang berada dalam jangkauan kemampuan untuk mencapainya yang berarti menetapkan tujuan dan sasaran yang realistik tanpa melupakan idealisme. Kedua, menerima kenyataan apabila dalam perjalanan hidup tidak selalu meraih hasil yang diharapkan.
    • Kemampuan Menentukan Prioritas, biasanya yang menjadi titik tolak strategik organisasional adalah “SWOT”.
    • Kemampuan Membedakan hal yang Urgen dan yang Penting
    • Naluri yang Tepat, kekampuannya untuk memilih waktu yang tepat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
    • Rasa Kohesi yang tinggi, :senasib sepenanggungan”, keterikan satu sama lain.
    • Rasa Relevansi yang tinggi, pemimpin tersebut mampu berpikir dan bertindak sehingga hal-hal yang dikerjakannya mempunyai relevansi tinggi dan langsung dengan usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi.
    • Keteladanan,s seseorang yang dinilai pantas dijadikan sebagai panutan dan teladan dalam sikap, tindak-tanduk dan perilaku.
    • Menjadi Pendengar yang Baik
    • Adaptabilitas, kepemimpinan selalu bersifat situasional, kondisonal, temporal dan spatial.
    • Fleksibilitas, mampu melakukan perubahan dalam cara berpikir, cara bertindak, sikap dan perilaku agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi tertentu yang dihadapi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh seseorang.
    • Ketegasan
    • Keberanian
    • Orientasi Masa Depan
    • Sikap yang Antisipatif dan Proaktif
    • KERETAKAN DALAM ORGANISASI

    Salah paham dalam menerima dan menafisrkan pesan.
    • Prosedur hubungan dalam organisasi tidak diikuti dengan benar. Misalnya, arahan dari pihak atasan langsung ke level paling bawah, tanpa mengambil peranan pihak tengah (middle level) dalam organisasi.
    • Kurangnya komitmen penuh dalam kerja organisasi. Aturan organisasi tidak dipahami dan dihayati pleh anggota organisasi.
    • Adanya kepentingan pribadi. Organisasi dipergunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi.
    • Permasalahan yang tidak kunjung selesai, sehingga tidak muncul kondisi organisasi yang nyaman.
    • Tidak adanya pembagian kerja dan juga pembagian keuntungan yang adil..
    Keretakan dalam organisasi dapat menumbuhkan citra negatif, dengan permasalah yang saling terkait, antara lain :
    • Keretakan hubungan antara anggota organisasi.
    • Perselisihan yang terus berlarut-larut dan suasana organisasi yang muram.
    • Wujud sikap mementingkan diri sendiri.
    • Produktivitas organisasi merosot.
    • Ketidakstabilan organisasi akibat dari retaknya hubungan.
    • Penyalahsunaan kekuasaan, mementingkan diri sendiri
    • PEMIMPIN VISIONER
    Kepemimpinan visioner, adalah pola kepemimpinan yang ditujukan untuk memberi arti pada kerja dan usaha yang perlu dilakukan bersama-sama oleh para anggota perusahaan dengan cara memberi arahan dan makna pada kerja dan usaha yang dilakukan berdasarkan visi yang jelas (Diana Kartanegara, 2003).
    Kepemimpinan Visioner memerlukan kompetensi tertentu. Pemimipin visioner setidaknya harus memiliki empat kompetensi kunci sebagaimana dikemukakan oleh Burt Nanus (1992), yaitu:
    • Seorang pemimpin visioner harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan manajer dan karyawan lainnya dalam organisasi. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk menghasilkan “guidance, encouragement, and motivation.”
    • Seorang pemimpin visioner harus memahami lingkungan luar dan memiliki kemampuan bereaksi secara tepat atas segala ancaman dan peluang. Ini termasuk, yang plaing penting, dapat “relate skillfully” dengan orang-orang kunci di luar organisasi, namun memainkan peran penting terhadap organisasi (investor, dan pelanggan).
    • Seorang pemimpin harus memegang peran penting dalam membentuk dan mempengaruhi praktek organisasi, prosedur, produk dan jasa. Seorang pemimpin dalam hal ini harus terlibat dalam organisasi untuk menghasilkan dan mempertahankan kesempurnaan pelayanan, sejalan dengan mempersiapkan dan memandu jalan organisasi ke masa depan (successfully achieved vision).
    • Seorang pemimpin visioner harus memiliki atau mengembangkan “ceruk” untuk mengantisipasi masa depan. Ceruk ini merupakan ssebuah bentuk imajinatif, yang berdasarkan atas kemampuan data untuk mengakses kebutuhan masa depan konsumen, teknologi, dan lain sebagainya. Ini termasuk kemampuan untuk mengatur sumber daya organisasi guna memperiapkan diri menghadapi kemunculan kebutuhan dan perubahan ini.

    Barbara Brown mengajukan 10 kompetensi yang harus dimiliki oleh pemimpin visioner, yaitu:

    • Visualizing.  Pemimpin visioner mempunyai gambaran yang jelas tentang apa yang hendak dicapai dan mempunyai gambaran yang jelas kapan hal itu akan dapat dicapai.
    • Futuristic Thinking. Pemimpin visioner tidak hanya memikirkan di mana posisi bisnis pada saat ini, tetapi lebih memikirkan di mana posisi yang diinginkan pada masa yang akan datang.
    • Showing Foresight. Pemimpin visioner adalah perencana yang dapat memperkirakan masa depan. Dalam membuat rencana tidak hanya mempertimbangkan apa yang ingin dilakukan, tetapi mempertimbangkan teknologi, prosedur, organisasi dan faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi rencana.
    • Proactive Planning. Pemimpin visioner menetapkan sasaran dan strategi yang spesifik untuk mencapai sasaran tersebut. Pemimpin visioner mampu mengantisipasi atau mempertimbangkan rintangan potensial dan mengembangkan rencana darurat untuk menanggulangi rintangan itu
    • Creative Thinking. Dalam menghadapi tantangan pemimpin visioner berusaha mencari alternatif jalan keluar yang baru dengan memperhatikan isu, peluang dan masalah. Pemimpin visioner akan berkata “If it ain’t broke, BREAK IT!”.
    • Taking Risks.  Pemimpin visioner berani mengambil resiko, dan menganggap kegagalan sebagai peluang bukan kemunduran.
    • Process alignment. Pemimpin visioner mengetahui bagaimana cara menghubungkan sasaran dirinya dengan sasaran organisasi. Ia dapat dengan segera menselaraskan tugas dan pekerjaan setiap departemen pada seluruh organisasi.
    • Coalition building. Pemimpin visioner menyadari bahwa dalam rangka mencapai sasara dirinya, dia harus menciptakan hubungan yang harmonis baik ke dalam maupun ke luar organisasi. Dia aktif mencari peluang untuk bekerjasama dengan berbagai macam individu, departemen dan  golongan tertentu.
    • Continuous Learning. Pemimpin visioner harus mampu dengan teratur mengambil bagian dalam pelatihan dan berbagai jenis pengembanganlainnya, baik di dalam maupun di luar organisasi. Pemimpin visioner mampu menguji setiap interaksi, negatif atau positif, sehingga mampu mempelajari situasi. Pemimpin visioner mampu mengejar peluang untuk bekerjasama  dan mengambil bagian dalam proyek yang dapat memperluas pengetahuan, memberikan tantangan berpikir dan mengembangkan imajinasi.
    • Embracing Change. Pemimpin visioner mengetahui bahwa perubahan adalah suatu bagian yang penting bagi pertumbuhan dan pengembangan. Ketika ditemukan perubahan yang tidak diinginkan atau  tidak diantisipasi, pemimpin visioner dengan aktif menyelidiki jalan yang dapat memberikan manfaat pada perubahan tersebut.
    Burt Nanus (1992),  mengungkapkan ada empat peran yang harus dimainkan oleh pemimpin visioner dalam melaksanakan  kepemimpinannya, yaitu:
    • Peran penentu arah (direction setter). Peran ini merupakan peran di mana  seorang pemimpin menyajikan suatu visi, meyakinkan gambaran atau target untuk suatu organisasi, guna diraih pada masa depan, dan melibatkan orang-orang dari “get-go.” Hal ini bagi para ahli dalam studi dan praktek kepemimpinan merupakan esensi dari kepemimpinan. Sebagai penentu arah, seorang pemimpin menyampaikan visi, mengkomunikasikannya, memotivasi pekerja dan rekan, serta meyakinkan orang bahwa apa yang dilakukan merupakan hal yang benar, dan mendukung partisipasi pada seluruh tingkat dan pada seluruh tahap usaha menuju masa depan.
    • Agen perubahan (agent of change). Agen perubahan merupakan peran penting kedua dari seorang pemimpin visioner. Dalam konteks perubahan, lingkungan eksternal adalah pusat. Ekonomi, sosial, teknologi, dan perubahan politis terjadi secara terus-menerus, beberapa berlangsung secara dramatis dan yang lainnya berlangsung dengan perlahan. Tentu saja, kebutuhan pelanggan dan pilihan berubah sebagaimana halnya perubahan keinginan para stakeholders. Para pemimpin yang efektif harus secara konstan menyesuaikan terhadap perubahan ini dan berpikir ke depan tentang perubahan potensial dan yang dapat dirubah. Hal ini menjamin bahwa pemimpin disediakan untuk seluruh situasi atau peristiwa-peristiwa yang dapat mengancam kesuksesan organisasi saat ini, dan yang paling penting masa depan. Akhirnya, fleksibilitas dan resiko yang dihitung pengambilan adalah juga penting lingkungan yang berubah.
    • Juru bicara (spokesperson). Memperoleh “pesan” ke luar, dan juga berbicara, boleh dikatakan merupakan suatu bagian penting dari memimpikan masa depan suatu organisasi. Seorang pemimpin efektif adalah juga seseorang yang mengetahui dan menghargai segala bentuk komunikasi tersedia, guna menjelaskan dan membangun dukungan untuk suatu visi masa depan. Pemimpin, sebagai juru bicara untuk visi, harus mengkomunikasikan suatu pesan yang mengikat semua orang agar melibatkan diri dan menyentuh visi organisasi-secara internal dan secara eksternal. Visi yang disampaikan harus “bermanfaat, menarik, dan menumbulkan kegairahan tentang masa depan organisasi.”
    • Pelatih (coach). Pemimpin visioner yang efektif harus menjadi pelatih yang baik. Dengan ini berarti bahwa seorang pemimpin harus menggunakan kerjasama kelompok untuk mencapai visi yang dinyatakan. Seorang pemimpin mengoptimalkan kemampuan seluruh “pemain” untuk bekerja sama, mengkoordinir aktivitas atau usaha mereka, ke arah “pencapaian kemenangan,” atau menuju pencapaian suatu visi organisasi. Pemimpin, sebagai pelatih, menjaga pekerja untuk memusatkan pada realisasi visi dengan pengarahan, memberi harapan, dan membangun kepercayaan di antara pemain yang penting bagi organisasi dan visinya untuk masa depan. Dalam beberapa kasus, hal tersebut dapat dibantah bahwa pemimpin sebagai pelatih,  lebih tepat untuk ditunjuk  sebagai “player-coach.”

    Siapakah Penentu Keberhasilan Saya?

    Kategori Individual
    Oleh : Ubaydillah, AN
    Jakarta, 27 April 2004
    Dalam hidup ini kita selalu dihadapkan pada kenyataan peristiwa, di mana ada orang yang punya perjalanan karir lancar, cepat meroket, dan "hoki-an" alias gampang mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Memulai dari staff baru, masuk dalam kelompok karyawan yang diperhitungkan, menduduki posisi manajer, memimpin kantor cabang dan seterusnya bahkan ada yang sampai menjadi calon menantu orang atasan di perusahaan.

    Di sisi lain ada juga yang menghadapi perjalanan karir penuh duri, lamban bergerak, dan kalau mau memutuskan pindah ke tempat lain, rasanya susah sekali mendapatkan gantinya hingga kemudian balik lagi ke tempat yang lama. Ada juga orang yang dari dulu sampai sekarang, posisinya itu-itu saja bahkan masalah gaji dan perlakuan lain-lain sudah kalah ketinggalan, meski secara usia dan lama bekerja, ia termasuk orang yang paling lama bekerja. Keragaman kenyataan itu membuat kita bertanya-tanya, apa yang membedakan keberhasilan dan kegagalan tersebut?

    Alternatif Jawaban

    Dari praktek hidup sehari-hari sedikitnya kita menemukan tiga alternatif pilihan siapa penentu kemajuan atau kemunduran saya:
    1. "Si nasib"
    2. "Si peluang" (kita gagal karena "si peluang" memilih hinggap di orang lain)
    3. Diri sendiri (karena usaha dan prestasi diri kita sendiri)
    Jawaban manakah yang paling benar?

    Dalam buku The Failing Forward, John C Maxwell menulis bahwa keberanian untuk menggunakan alternatif jawaban ke-3 lah yang menjadi pembeda: antara kemajuan yang berasal dari kegagalan, atau kemunduran karena kegagalan (failing backward).

    Belajar Memotivasi Diri Sendiri

    a. Nasib

    Kita perlu memahami nasib, dalam prinsip aktif-optimum-seimbang): 100 % Tuhan dan 100 % manusia (aktif-optimum-seimbang). Untungnya apa?
    Dengan memilih pengertian ini berarti kita berani menuding diri sendiri secara positif bahwa nasib buruk yang menimpa karir kita bukan disebabkan oleh siapa-siapa tetapi kitalah yang secara tidak sadar memilih untuk diam. Jadi, kita sendiri lah yang harus memprakarsai tindakan-tindakan yang kalau kita lakukan akan membuat posisi karir kita bergerak naik.
    Sebaliknya jurus ini juga sangat menolong kita dari kealpaan terhadap Tuhan, saat kita sedang bahagia, kaya, sejahtera, mujur. Kemewahan, prestasi, dan kesukesan sering membuat kita lupa akan Tuhan. Kita sering terlalu sombong, terlalu bangga pada diri sendiri dan sombong terhadap Tuhan.

    b. Peluang

    Selama ini kita sering menyimpulkan bahwa nasib buruk yang menimpa karir kita adalah karena kita tidak diberi peluang maju oleh kantor sebagaimana yang dialami orang lain. Ubahlah pemahaman itu dengan melihat peluang dari sisi lain: bahwa orang lain tidak akan memberi peluang selama kita tidak mencari, menciptakan, memberi dan membuka diri untuk peluang. Contoh tindakan kongkrit:

    • Tidak perlu menunggu diberi kesempatan belajar tetapi kitalah yang perlu menciptakan kesempatan untuk belajar dari pekerjaan yang selama ini kita tangani. Belajar berarti mengubah ketidakmampuan menjadi kemampuan - keterampilan dan kompetensi baru.
    • Tidak perlu menunggu paksaan wajib belajar tetapi kitalah yang perlu menanamkan betapa pentingnya mempelajari pekerjaan itu bagi kepentingan kita (sense of urgency) nanti dan suatu saat.
    • Tidak perlu menunggu kepastian apa untungnya kalau kita mempelajari pekerjaan tetapi kitalah yang memastikan keuntungan itu (result and benefit).
    • Tidak perlu menunggu dilindungi atasan kalau kita salah tetapi kitalah yang memberanikan diri untuk mengutak-utik cara mengerjakan pekerjaan yang lebih efektif dan efisien dengan tetap menjaga Tidak perlu menunggu kekalahan telak untuk bangkit tetapi kitalah yang perlu memacu semangat hidup kita setiap hari untuk selalu berpikir dan berjalan ke depan, serta tidak memandang kejatuhan sebagai akhir dari segalanya.
    • Tidak perlu menunggu keadaan sampai sempurna untuk bertindak tetapi kitalah yang perlu menyempurnakan keadaan.
    • Tidak perlu menunggu peluang mendatangi kita tetapi kitalah yang mesti menciptakan persiapan atas datangnya peluang.
    Menurut hukum kebiasaan dan pengalaman sejumlah orang berprestasi di bidang kerjanya, peluang seperti tamu agung yang sensitive dan beradab. Meskipun sudah mendatangi kita dan kita tunggu kedatangannya tetapi kalau cara kita menyambut kedatangannya sambil duduk dan kurang semangat, dia akan cepat pamit meninggalkan kita karena tersinggung. Pengalaman Norman Vincent Peale menyimpulkan: "Saya adalah orang yang paling percaya pada keberuntungan. Semakin giat saya bekerja saya merasakan semakin banyak keberuntungan yang mendatangi saya".

    c. Membangun diri

    Untuk menjawab berbagai kelemahan yang tidak kita ciptakan dengan sengaja (akibat dari pembawaan lahir atau pengalaman negatif masa lalu) strategi yang mungkin kita lakukan adalah strategi 3A milik Murdo Macleod dalam "7 Steps to Mental mastery" berikut ini:
    • A1 = Accept (menerima)
    • A2 = Ask (mempertanyakan)
    • A3 = Action (melakukan)
    Terlebih dahulu, kita perlu belajar mengembangkan sikap menerima dan/atau memaafkan masa lalu (diri sendiri maupun orang-orang yang terlibat/ berpengaruh dalam kehidupan kita). Agar kita bisa memaafkan maka kita perlu menciptakan pertanyaan yang mengarah pada penemuan positif dari pengalaman / keadaan di masa lalu (mengambil hikmahnya). Makna positif itu, mendorong kita semakin memahami apa sebenarnya yang menjadi panggilan hidup kita, dan apa kontribusi pengalaman tersebut terhadap "asset mental" diri sendiri dan terhadap perkembangan diri hingga saat ini. Pemahaman akan panggilan dan arah kehidupan, dan pemahaman akan "asset mental" serta kemampuan actual saat ini, membuat tindakan, pola pikir dan sikap kita lebih terencana, konstruktif, positif dan bertujuan (positif).
    Dinamika kehidupan yang harus dihadapi setiap manusia, perlu di respon secara tepat. Tidak ada salahnya jika kita bersikap kritis, mempertanyakan segala sesuatu untuk menemukan makna dan nilai utama - yang amat berarti bagi perjalanan menuju kedewasaan dan keberhasilan hidup. Janganlah kita membatasi diri (self limitting belief), dengan pola pikir yang keliru atau dengan strategi/ cara-cara yang terbatas. Lain persoalan, lain pula cara menghadapinya. Dengan berpikir positif dan bersikap proaktif dalam menghadapi hidup ini, yakinlah bahwa kita dapat memiliki kehidupan yang lebih baik! Semoga bermanfaat!
    I
    novasi Diri
    Kategori Individual
    Oleh : Ubaydillah, AN
    Jakarta, 25 April 2003
    Dalam bukunya "Only The Paranoid Survive" (Currency New York: 1996), Andy Grove menceritakan banyak hal tentang lingkungan bisnis, keputusan dan eksekusi yang dijalankan sehubungan dengan posisinya sebagai CEO dari Intel Co. Langkah Grove mengubah core business dari chip memory ke microprocessor dinilai banyak pihak sebagai kesuksesan bertindak. Sebelumnya, Intel dihadapkan pada banyak dilemma menghadapi serangan produk Jepang yang telah lebih dulu menguasai pasar chip memory di samping juga dilihat dari resource usaha, manufaktur Jepang itu lebih kuat.

    Saat itu Grove menghadapi tiga pilihan yang sama-sama tidak mudah. Pilihan pertama berupa "low cost strategy". Kalau ingin mengalahkan perusahaan Jepang, Intel harus banting harga. Pilihan kedua, kalau tidak sanggup banting harga, Intel harus bermain dalam ceruk pasar yang kecil, "Niche Market strategy". Inipun tidak gampang karena konsekuensinya berupa tuntutan pada stabilitas dan margin profit. Ketiga, innovasi produk. Kalau ingin menang, tuntutannya berupa memperbaiki produk supaya lebih terjangkau oleh pasar dengan kualitas lebih dan, yang paling penting, tidak gampang ditiru oleh manufaktur Jepang.

    Intel akhirnya memilih pilihan ketiga. Pilihan tersebut ternyata tepat sehingga kemudian mengantarkan Grove dinobatkan "Man of the year" versi Time magazine, 1997. Inovasi Intel menurut pendapat Grove diawali dari keberanian eksperimentasi dan fleksibilitas dalam menjalankan perubahan produk. Saat itu dinilai tidak cukup bagi Intel hanya mengandalkan strategi "clear vision" dan "stable" tetapi perlu mengubah konsep berpikir. Seperti diakui Grove: "If company is experiencing rigidity in thinking and resistance to change, that company will not survive in high speed global market place".

    Belajar dari langkah Grove yang memulai kesuksesannya dengan menggunakan kata kunci inovasi, rasanya tidak salah kalau kata kunci itu kita gunakan untuk mengawali kesuksesan dalam konteks pengembangan diri. Kenyataannya, sekedar inovasi semata sudah tak terhitung yang memahami dan mempraktekkannya baik di tingkat organisasi atau pribadi, tetapi kebanyakan mandul atau gagal. Lalu agar tidak gagal, format pemahaman inovasi seperti apakah yang mestinya digunakan?

    Menyeluruh

    Kasarnya, bicara ide cemerlang tentu dapat ditemukan di kepala banyak orang atau organisasi, tetapi inovasi tidak berhenti pada ide cemerlang. Tidak pula berupa tindakan yang semata-mata berbeda dengan orang lain sebab inovasi bukan sebuah konsep tunggal dalam arti berubah hanya untuk sekedar berubah (change for the sake of change). Inovasi yang sesungguhnya adalah inovasi yang dipahami sebagai pelaksanaan konsep secara menyeluruh mencakup komponen dan segmennya. Mengacu pada pendapat Beth Webster dalam "Innovation: we know we need it but how do we do it" (Harbridge Consulting Group: 1990), inovasi adalah menemukan atau mengubah materi pekerjaan atau cara menyelesaikan pekerjaan secara lebih baik. Dengan definisi ini inovasi mengandung dua komponen: yaitu penemuan (invention), dan pelaksanaan (implementation), dimana pada tiap komponen terdiri atas empat segmen:
    • Kreativitas - Generating new ideas
    • Visi - Knowing where you want to get with it
    • Komitmen - Mobilizing to get there
    • Manajamen - Planning and working to get there
    Menjalankan inovasi diawali dari eksplorasi untuk menemukan sesuatu yang baru dalam bentuk yang lebih tanpa meninggalkan perangkat lama yang masih baik. Tidak berhenti pada menemukan ide lebih baik, inovasi menuntut langkah berikutnya berupa pelaksanaan uji-realitas. Dalam kasus Intel, Grove menamakannya dengan istilah keberanian eksperimen. Pantas diberi embel-embel keberanian karena eksperimentasi punya resiko paling tinggi terhadap kegagalan sehingga dalam prakteknya banyak orang mengatakan TIDAK terhadap inovasi karena rasa takut menerima resiko itu.

    Selain resiko kegagalan, hambatan di tingkat konsep, praktek, strategi, tekhnis, diri sendiri dan orang lain juga kerap muncul. Untuk menciptakan solusi yang dibutuhkan, maka kreativitas para innovator berperan. Kreativitas solusi ini diwujudkan dalam bentuk jumlah alternatif solusi terhadap situasi dengan cara mengubah, mengkombinasikan, mengindentifikasi celah destruktif dari sesuatu yang sudah mapan (established). Menurut riset ilmiah, kuantitas solusi alternatif punya korelasi dengan kualitas solusi. Jadi kreativitas bertumpu pada kemampuan memiliki pola baru dalam melihat hubungan antar obyek yang dilahirkan dari sudut pandang adanya "possibility", dan mempertanyakan sesuatu untuk memperoleh jawaban lebih baik. Seorang pakar kreativitas, Arthur Koestler, mengatakan: "Every creative act involve a new innocent of perception, liberated from cataract of accepted belief".

    Dalam menjalankan kreativitas menciptakan solusi, innovator perlu memiliki kemampuan menyalakan lampu petunjuk yaitu visi - having clear sense of direction. Artinya, bentuk inovasi seperti apakah yang dilihat secara jelas oleh imajinasi innovator? Semakin jelas padanan fisik dari tujuan inovasi bisa disaksikan oleh penglihatan mental, maka akan semakin menjadi obyek yang satu atau utuh. Kembali pada pengetahuan tentang pikiran yang baru akan bekerja kalau difokuskan pada obyek utuh, kalau obyeknya masih terpecah tidak karuan, dengan sendirinya pikiran memilih untuk diam atau kacau. Bagaimana mengutuhkan obyek sasaran dalam kaitan dengan kemampuan visualisasi ini?

    Merujuk pada pendapat Shakti Gawain dalam "Creative Visualization" (Creating Strategies Inc.: 2002), para innovator perlu melewati empat tahapan proses untuk menajamkan visinya, yaitu:
    1. Memiliki tujuan yang jelas
    2. Memiliki potret mental yang jelas dari sebuah obyek yang diinginkan
    3. Memiliki ketahanan konsentrasi terhadap obyek atau tujuan
    4. Memiliki energi, pikiran, keyakinan positif
    Di atas dari semua komponen dan segmen di atas, roh dari inovasi adalah komitmen yang membedakan antara "make or let things happen". Inovasi menuntut komitmen pada "make", bukan membiarkan ide cemerlang menemukan jalannya sendiri di lapangan. Komitmen adalah menolak berbagai macam "excuses" yang tidak diperlukan oleh inovasi. The show must go on. Mengutip pendapat Ralp Marlstone tentang komitmen dikatakan: "Anda tidak bisa menciptakan 'living' hanya dengan ide, kreativitas, visi, melainkan 'you must live' WITH them". Senada dengan Ralp, Joel Barker mengatakan "Vision WITH action can change the world".

    Menjalankan ide innovative sebagai pemahaman komprehensif menuntut aplikasi prinsip manajemen yang berarti menggunakan sumber daya di luar kita sebagai kekuatan berdasarkan keseimbangan riil antara size of planning dan ability of working. Tanpa aplikasi manajemen, sumber daya yang berlimpah di luar sana bisa tidak berguna atau malah menjadi penghambat atau sia-sia. Salah satu keahlian manajemen adalah komunikasi. Tak terbayangkan kalau kerjasama apapun tidak diimbangi dengan kemampuan komunikasi yang dibutuhkan. Contoh lain yang menggambarkan pentingnya keseimbangan dalam menjalankan inovasi adalah fenomena kekecewaan atau kegagalan proposal kerja sama. Dari sudut gagasan, kreativitas, visi, semuanya cemerlang. Tetapi begitu disepakati untuk dijalankan, ternyata masih banyak celah lobang yang belum atau masih di luar kapasitas masing-masing pihak menciptakan solusi. Atau dengan kata lain lebih gede planning for success ketimbang ability of working for success.

    Alasan

    Menemukan alasan mengapa kita merasa perlu untuk menjalankan ide innovative untuk memperbaiki kehidupan pribadi atau organisasi merupakan bagian penting dari inovasi itu sebelum dijalankan. Sebagian dari alasan itu antara lain dapat dijabarkan sebagai berikut:

    1. Perubahan

    Dunia ini tidak akan berbeda dengan perubahan yang secara take for granted akan terjadi. Setiap perubahan eksternal menuntut ketepatan memilih respon yang tepat di tingkat internal. Inilah pilihan dari pemahaman hidup yang harus dipegang. Sayangnya sering ditemukan bahwa orang lebih tertarik untuk membicarakan kemajuan yang diciptakan perubahan dunia luar tanpa dibarengi dengan keingian kuat untuk mengubah diri. Sikap resistance to change yang membabi buta ini pada giliran tertentu akan mengantarkan pada posisi sebagai korban perubahan zaman atau tidak mendapat benefit dari kemajuan.

    Contoh sepele adalah penguasaan bahasa asing, katakanlah bahasa Inggris. Dahulu menjadi rukun profesi dalam arti bagian atau rungan tersendiri dari sebuah profesi. Tetapi sekarang tidak bisa dipungkiri telah menjadi syarat masuk pintu gerbang yang berarti harus dimiliki oleh semua calon profesi. Mengantisipasi tuntutan perubahan dunia luar,langkah penyelamat yang menjamin adalah mendirikan lembaga learning di dalam diri kita. Materinya bisa diadopsi dari mana saja tergantung kebutuhan dan kemampuan berdasarkan tuntutan lingkungan di mana kita berada.

    2. Keterbatasan

    Melakukan inovasi diri harus diberangkatkan dari pemahaman bahwa manusia memiliki kemampuan tak terbatas kecuali batasan yang diciptakan sendiri (self-fulfilling prophecy). Kaitannya dengan inovasi adalah, kemampuan kita merupakan garis pembatas pigura hidup, dan inovasi dibutuhkan dalam rangka memperluas garis pembatas pigora itu. Selain dibutuhkan pemahaman dari dalam juga tidak kalah penting peranan "pil" pemahaman yang disuntikkan oleh pihak luar, meskipun dalam bentuk tawaran memilih. Praktekknya tidak sedikit orang yang meyakini wilayah ‘pigura hidup’-nya bertambah setelah minum pil pemahaman dari sosok yang diyakini lebih terpercaya, misalnya saja paranormal, dukun, penasehat, konsultan, sahabat karib, dll.

    Pil pemahaman dari luar inilah yang oleh Dale Carnegie disebut Kelompok Ahli Pikir. Selama pil yang diberikan berupa pil miracle, tentu saja akan sangat dibutuhkan sebab secara alami orang sangat sensitif terhadap pemahaman orang lain tentang dirinya. Justru yang patut disayangkan adalah kalau pil itu berupa stigma killer lalu diterima mentah-mentah, misalnya saja: pasti gagal, rasanya sulit, kayaknya tidak mungkin dll. Oleh karena itu Mark Twain berpesan: "Jauhkan diri anda dari kelompok orang atau komunitas yang membuat ambisi anda menurun yang biasanya dilakukan oleh pribadi yang kerdil".

    3. Kesenjangan

    Alasan lain mengapa inovasi dibutuhkan adalah kenyataan alamiah berupa terjadinya kesenjangan antara alam idealitas dan realitas. Wujud pengakuan fakta alamiah itu harus dibuktikan dengan perbaikan di tingkat realitas dan perubahan format alam idealitas. Seperti kata pepatah, "Gantungkan cita-citamu di langit tetapi jangan lupa kakimu menginjakkan bumi". Maksudnya, terus ciptakan standard yang lebih tinggi dari yang optimal bisa diraih. Bisa dibayangkan, seandainya semua manusia cukup "berpuas-diri", dengan apa yang ada dalam pengertian 'low quality', maka pasti kemajuan sulit diciptakan. Selain itu akan memudahkan orang terkena virus putus asa, berpikir only one answer, bersikap perfectionist yang berarti bertentangan dengan prinsip dasar inovasi.

    Sulit dielakkan, kenyataannya terdapat kecenderungan budaya konformitas berupa ketakutan psikologis untuk bercita-cita tinggi yang dijustifikasi oleh pola berpikir realistik yang keliru dalam arti tidak mencerminkan semangat pengembangan diri ke arah lebih baik. Mestinya, berpikir realistik diartikan menginjak di atas realitas, tidak sebaliknya hidup di dalam realitas. Didasarkan pada pemahaman yang berbeda ini maka terjadi kenyataan yang berbeda. Kendaraan yang berjalan di atas jalan raya dapat diarahkan kemana pun tetapi ketika terperosok di dalam lumpur, pilihannya hanya dientaskan ke atas.

    Perlu dicatat bahwa semua alasan yang sudah disebutkan di atas didasarkan pada: 1) perspektif bahwa hidup adalah proses; dan 2) menjalankan Learning Principle yang merupakan upaya untuk mengembangkan kemampuan dari asset potential menjadi asset aktual. Oleh karena itu alasan personal lain, apapun yang kita miliki, tuntutan paling penting tetap pada menemukan alasan yang punya korelasi kuat terhadap tindakan yang memiliki akses pada perubahan situasi. Begitu situasi sudah dapat diubah menjadi lebih baik berarti kita sudah melangkahkan kaki pada tujuan akhir dari inovasi yang berarti awal untuk memulai perubahan lain ke arah yang bertambah baik. That is the process. Semoga berguna.

    Mengapa Perlu Optimis

    Kategori Individual
    Oleh : Ubaydillah, AN
    Jakarta, 29 Juli 2009
    Mengapa optimisme diperlukan?
    Apakah Anda seorang yang optimis dalam menghadapi bulan-bulan ke depan di tahun 2007 ini? Tunggu dulu. Kita orang optimis atau pesimis tidak penting diutarakan secara verbal di hadapan orang lain. Kitalah orang yang paling tahu apakah kita seorang yang optimis atau pesimis. Tingkat ke-optimis-an dan ke-pesimis-an kita tidak bisa diukur dengan ucapan mulut. Mulut kita memang bisa saja mengatakan kita ini orang optimis. Meski begitu, jika yang kita praktekkan sehari-hari justru bertentangan dengan kaidah-kaidah optimisme, maka kita bukanlah orang yang optimis.
    Optimisme memiliki dua pengertian. Pertama, optimisme adalah doktrin hidup yang mengajarkan kita untuk meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat kita (punya harapan). Kedua, optimisme berarti kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Kalau dipendekkan, optimis berarti kita meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu kita GUNAKAN untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna meraih hasil yang lebih bagus.
    Optimisme seperti itu dalam prakteknya sangat diperlukan. Ini antara lain dengan alasan-alasan:
    Pertama, energi positif (dorongan). Kalau bicara harapan sebatas harapan (baca: harapan mulut), tentunya kita sudah tahu kalau harapan itu tidak bisa mengubah apa-apa. Lalu untuk apa kita membutuhkan harapan (optimisme)? Ini untuk mengeluarkan energi positif. Untuk menciptakan langkah dan hasil yang lebih bagus dibutuhkan harapan yang lebih bagus agar energinya lebih bagus. Memiliki harapan yang lebih bagus akan memunculkan energi dorongan yang lebih bagus.
    Sekarang, coba kita bayangkan apa yang akan kita rasakan seandainya kita sudah tidak memiliki harapan adanya kehidupan yang lebih bagus di masa datang? Kemungkinan yang paling dekat adalah kita tidak terdorong untuk melakukan sesuatu yang lebih bagus, terasa hambar, terasa biasa-biasa saja. Kehidupan yang lebih bagus memang tidak bisa diwujudkan dengan hanya harapan, namun untuk meraihnya dibutuhkan harapan yang bagus. Karena itu ada yang mengatakan, selama harapan itu masih ada berarti kehidupan kita masih ada. Collin Powell sendiri mengakui: “Optimism is a force multiplier.
    Kedua, perlawanan. Tingkat perlawanan seseorang terhadap masalah atau hambatan yang dihadapinya juga terkait dengan tingkat keoptimisannya. Orang dengan optimisme yang kuat biasanya punya perlawanan yang kuat untuk menyelesaikan masalah atau hambatan. Sebaliknya, orang dengan optimisme rendah (pesimis), biasanya punya tingkat perlawanan yang lebih rendah, cenderung lebih mudah pasrah pada realitas atau keadaan ketimbang memperjuangkannya.
    Secara agak lebih ekstrim sedikit, kita bisa membagi manusia dalam menghadapi masalah / hambatan itu menjadi tiga kelompok, seperti yang ditulis Less Brown dalam “Learn To Be Winner” (Top Achievement: 2000]. Ketiga kelompok itu adalah the winner (pemenang), the loser (pecundang) dan the potential winner (calon pemenang). Menurut Kevin Costner, yang disebut pemenang itu adalah orang yang jatuh, gagal dan kurang, tetapi pada akhirnya menang karena pendirian, keyakinan dan komitmen yang dipegangnya dengan teguh untuk mencapai impiannya."
    Apa yang membuat seseorang menjadi pemenang dan pecundang? Tentu banyak faktor yang terlibat. Tapi kalau mau melihat kondisi faktor internal, tentu peranan harapan atau optimisme tidak bisa dielakkan. Kalau mau pakai pedoman pendapat Greg Phillip (The ultimate potential: 2004), faktor internal yang terlibat itu adalah: a) harapan, b) keyakinan, c) kontrol-diri, dan d) sikap mental.
    Ketiga, sistem pendukung. Harapan optimisme juga berfungsi sebagai sistem pendukung. Kalau kita menginginkan keberhasilan, lalu kita berpikir berhasil, punya kemauan untuk berhasil, punya sikap yang dibutuhkan untuk berhasil dan melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk keberhasilan itu, maka logikanya kita pasti berhasil. Soal kapannya itu urusan lain.
    Yang menjadi masalah buat kita adalah kita menginginkan keberhasilan tetapi kita malas-malas (tidak punya kemauan), punya sikap yang tidak mendukung, berpikir negatif, harapannya pesimis, dan lebih sering tidak melakukan hal-hal yang kita butuhkan untuk berhasil. Ibarat mesin, jika yang aktif hanya satu sistem, sementara sistem yang lain mati atau bekerja untuk hal-hal yang tidak kita inginkan, maka operasi sistem itu kurang optimal.

    Intinya, harapan di sini bukan tujuan, apalagi tempat bergantung. Kita tidak boleh menggantungkan harapan pada harapan itu, melainkan pada usaha. Harapan di sini adalah metode atau jalan agar kita bisa mengeluarkan energi positif, bisa mengatasi masalah secara positif sepositif harapan kita dan bisa memiliki mesin prestasi yang seluruh sistemnya bergerak secara positif.

    Sebuah temuan mengungkap bahwa orang yang memiliki harapan optimis, umumnya memiliki kualitas di dalam diri yang antara lain:
    § Punya fokus langkah yang selektif, punya sasaran usaha yang jelas
    § Bisa menerima fakta hidup dengan kesadaran, tanpa banyak mengeluh atau memprotes
    § Memiliki bentuk keyakinan yang membangkitkan
    § Punya perasaan diberkati rahmat Tuhan
    § Punya kemampuan untuk menikmati kehidupan
    § Punya kemampuan dalam menggunakan akal sehatnya dalam menghadapi tantangan hidup
    § Punya kemampuan untuk menjalankan agenda perbaikan diri secara terus menerus
    § Punya penghayatan yang bagus terhadap praktek hidup yang dijalankan sehingga bisa membedakan praktek yang salah dan praktek yang benar; praktek yang tepat dan praktek yang menyimpang
    § Punya kepercayaan yang bagus terhadap kemampuannya
    § Punya perasaan yang bagus terhadap dirinya


    Apa yang perlu dihindari dalam berharap?
    Meski untuk berharap itu tidak ada peraturannya, namun berdasarkan pengalaman dan kebiasaan, ada beberapa hal yang akan lebih bagus kalau dihindari. Beberapa hal itu antara lain:

    Pertama, harapan mulut (wish). Seperti apa harapan mulut itu? Kalau kita berharap adanya hari esok yang lebih bagus, namun itu hanya kita gunakan dalam ucapan atau tulisan, tanpa diiringi dengan tujuan, perencanaan, strategi, tehnik dan pelaksanaannya (aksi), ya ini namanya harapan mulut. Biasanya, harapan seperti ini tidak mengubah apa-apa. Harapan seperti ini sama seperti fantasi atau keinginan-keinginan yang sifatnya masih umu.

    Para pakar pengembangan diri umumnya membedakan antara “wish” dengan “goal” (tujuan atau keinginan yang jelas). Katanya, orang lemah biasanya hanya punya wish; sementara orang kuat biasanya memiliki goal. Goal adalah keinginan dengan sasaran yang jelas dan jelas-jelas kita usahakan. Sekedar punya wish dalam pengertian seperti ini, tentu semua orang bisa. Sayangnya, praktek hidup ini tidak peduli dengan berbagai wish yang kita ucapkan.

    Kedua, terlalu berharap (over-expectation). “Jangan terlalu berharap nanti kecewa sendiri”, itu pesan yang sering kita dengar. Memang ini tidak pasti tetapi biasanya begitu. Terlalu berharap itu berbeda dengan memiliki harapan yang kuat (optimis). Harapan yang kuat berujung pada aksi atau usaha yang kuat. Seperti yang sudah kita bahas, optimisme itu artinya kita menciptakan keyakinan dan menggunakannya dalam bertindak. Sementara, terlalu berharap biasanya hanya berhenti pada mengharap, untuk mengharap dan selalu mengharap. Ada pepatah yang berpesan begini: “Jika kau mengharapkan sesuatu, jangan terlalu mengharapkannya.” Bahkan Samuel Somarset mengamati bahwa terlalu mengharapkan sesuatu kerapkali malah mengundang datangnya sesuatu yang tidak kita harapkan. Inilah anehnya hidup itu.

    Ketiga, berharap dengan setengah takut (ragu-ragu). Biasanya, harapan seperti ini lahir dari ketidaktahuan kita secara akurat. Jika kita mengharapkan hari esok yang lebih bagus, namun kita tidak tahu apa alasan kita berharap seperti itu, ya mau tidak mau harapan kita tidak steril. Harapan kita masih bercampur dengan ketakutan dan keragu-raguan. Seperti kata Coach Bear Bryant, yang membedakan orang per-orang itu bukan harapannya pada keberhasilan, tetapi persiapannya. Semua orang mengharapkan keberhasilan, tetapi hanya orang yang punya persiapan matang yang berpeluang untuk berhasil.

    Keempat, menggantungkan harapan pada kenyataan.Kalau kita hari ini punya harapan cerah karena sehabis terima bonus tahunan, kemudian bulan depan kita berharap lesu karena tidak ada bonus, ini namanya menggantungkan harapan pada kenyataan. Artinya, kita men-set harapan itu sesuai dengan kenyataan-sementara yang kita hadapi.

    Pada ukuran yang wajar, bisalah kita sebut ini kelemahan-manusiawi yang wajar. Dibilang tidak bagus memang tidak bagus tetapi ini dimiliki oleh semua manusia. Nah, agar kewajaran ini tidak membuahkan kerugian atau kefatalan, maka kita diajarkan untuk menggantungkan harapan pada Tuhan(iman), bukan pada realitas. Artinya, kita perlu belajar menemukan alasan yang kuat untuk bisa memiliki harapan optimisme, terlepas realitas-sementara yang kita hadapi. Seperti pesan Einstein, orang optimis bisa melihat sinar di ujung kegelapan; bisa melihat tanda-tanda peluang di balik kesulitan.

    Kelima, mempertentangkan harapan dan kenyataan. Apa yang membuat orang stress berkepanjangan? Apa yang membuat orang terkena konflik-diri terlalu lama? Salah satunya adalah kurang bisa me-manage gap antara harapan dan kenyataan. Orang yang bisa me-manage, biasanya menjadikan kenyataan sebagai dorongan untuk mewujudkan harapannya. Mereka bisa menggunakan ketidakpuasan sebagai dorongan untuk menciptakan perubahan. Banyak kan orang yang akhirnya mendapatkan “berkah” dari kenyataan buruk yang dihadapinya?

    Sebaliknya, orang yang belum bisa me-manage, kerapkali menjadikan kenyataan ini sebagai killer harapannya. Mereka menjadikan kenyataan sebagai penyubur apatisme dan pesimisme. Meski sama-sama menghadapi kenyataan yang sama, namun karena sikap mentalnya berbeda, ya akan berbeda hasilnya. Tidak sedikit kan orang yang selalu menuding kenyataan dan menjadikan kenyataan itu sebagai dalil pembenar untuk hopeless?

    Bagaimana menciptakan harapan yang optimis?
    Harapan optimistik berbeda dengan harapan pesimistik. Bedanya dimana? Bedanya adalah, yang pertama harus diciptakan, sedangkan yang kedua tidak usah diciptakan. Pertanyaannya adalah, bagaimana menciptakan harapan optimistik itu? Di bawah ini ada beberapa pilihan yang bisa kita jadikan acuan:

    Pertama, memiliki tujuan atau sasaran aktivitas yang jelas. Apa tujuan yang hendak anda raih di tahun 2007 ini? Kalau anda pelajar/ mahasiswa, tentukan tujuan atau standar prestasi yang benar-benar ingin anda raih. Kalau anda seorang karyawan, tentukan tujuan atau standar prestasi yang hendak anda wujudkan. Kalau anda seorang pengusaha, tentukan tujuan usaha anda yang lebih tinggi dari yang kemarin.

    Banyak studi yang sudah mengungkap bahwa keoptimisan seseorang itu terkait dengan “internal value” dan “standard”. Memiliki harapan optimistik tidak bisa dibuat-buat. Sejauh di dalam batin kita ada standar, ada sasaran atau tujuan yang benar-benar berarti buat kita dan benar-benar kita perjuangkan, maka secara otomatis harapan itu muncul. Seperti kata C.R. Synder, Ph.D, penulis buku “The Psychology of Hope”, bahwa menentukan tujuan merupakan cara untuk membangkitkan harapan.

    Kedua, ciptakan opini-diri yang bagus. Orang itu memang bermacam-macam. Terkait dengan opini-diri ini, ada orang yang meng-opini-kan dirinya sebagai orang lemah, tidak memiliki apa-apa, merasa tidak sanggup untuk merealisasikan tujuannya, merasa tidak punya alasan untuk berhasil, merasa tidak memiliki resource yang dibutuhkan, dan lain-lain. Ada juga orang yang berusaha meng-opini-kan dirinya sebagai orang kuat (warrior), merasa yakin dan mampu akan dapat mewujudkan tujuannya, merasa punya alasan yang kuat untuk berhasil, tahu apa yang harus dilakukan, tahu resource yang bisa digunakan, dan seterusnya.

    Opini-diri mana yang lebih positif untuk kita miliki? Tentu saja yang kuat. Opini-diri yang kuat memang tidak otomatis dapat merealisasikan tujuan-tujuan atau sasaran yang kita buat. Tetapi perlu diingat, untuk merealisasikan tujuan itu dibutuhkan opini-diri yang bagus. Coba saja kita membiarkan opini-diri yang lemah, mana mungkin kita sanggup untuk sekedar punya harapan yang optimistik.
    Jhon C. Maxwell pernah berpesan begini: “Ketika anda mengubah pikiran anda maka keyakinan anda akan berubah. Ketika anda mengubah keyakinan anda maka harapan anda berubah. Ketika anda mengubah harapan anda maka sikap anda akan berubah. Ketika anda mengubah sikap anda maka prilaku anda akan berubah. Ketika anda mengubah prilaku anda maka performansi anda akan berubah. Ketika anda mengubah performansi anda maka hidup anda akan berubah.”

    Ketiga, miliki sikap dan pandangan yang sehat tentang hidup ini. Konon, salah satu penyebab yang membuat orang gagal memiliki harapan optimistik adalah sikapnya yang kurang sehat. Bagaimana sikap dan pandangan yang kurang sehat itu? Salah satunya adalah ketika kita tidak bisa menerima kenyataan dengan berbagai macam warna-warninya (fakta kehidupan). Ketika kita tidak belajar menerima kehidupan ini seperti adanya untuk kita usahakan seperti yang kita inginkan, memang yang kerap terjadi malah membikin kita mudah terkena stress atau tekanan. Kalau sudah begini, harapan kita juga terancan. Tetaplah berharap akan adanya kehidupan yang lebih bagus tetapi juga harus mengakui dengan kesadaran akan fakta hidup yang ada: terkadang ada OK dan terkadang tidak OK.

    Keempat, temukan model. Model yang dimaksudkan di sini adalah orang. Temukan orang yang kira-kira budaya hidupnya bisa anda contoh. Temukan orang yang kira-kira pendapatnya tentang diri anda dan dunia ini bisa membangkitkan anda. Temukan orang yang bisa meng-inspirasi anda. Saran Mark Twin, jangan mendekati orang yang ucapannya malah menghancurkan harapan anda (menggembosi). Jangan pula mencontoh orang yang tidak punya harapan optimistik apabila kita ingin punya harapan optimistik.

    Orang seperti itu bisa orang yang anda di sekeliling anda, kenalan, atau orang yang anda kenal lewat karyanya saja. Di majalan Fast Company edisi 20 Desember 2006 ini, ada kalimat yang bagus untuk kita ingat. Kalimat itu bunyinya begini: "Often the most important people in our network are those who are acquaintances." Acquaintances itu belum menjadi friend apalagi close friend, tetapi kenalan. Intinya, kita tidak perlu pusing mencari model orang karena ada dimana-mana dan bisa siapa saja.

    Kelima, tingkatkan keimanan. Salah satu esensi keimanan adalah adanya kesadaran bahwa kita ini “dimiliki” (being owned) oleh Tuhan atau munculnya perasaan “kebersamaan” dengan Tuhan. Semakin kuat keimanan itu, semakin kuat juga kesadaran itu dan rasa kebersamaan itu. Punya kesadaran yang kuat bahwa kita ini “dimiliki” akan membuat kita tidak mudah merasa sendirian atau merasa tidak memiliki siapa-siapa dalam menatap masa depan. “Keimanan”, menurut kesimpulan Margo Jones, adalah prasyarat bagi semua usaha.

    Resolusi Rencana



    Oleh : Ubaydillah, AN
    Jakarta, 05 April 2007
    Karakteristik rencana yang bagus

    Terbiasakah anda menghadapi tahun baru dengan seabrek perencanaan dan program? Rasanya sudah umum kita menghadapi tahun baru dengan segudang perencanaan. Seperti kata orang, gagal dalam merencanakan sesuatu berarti sama dengan merencanakan kegagalan. Kalau melihat praktek hidup, pengertian "gagal dalam merencanakan sesuatu" di situ ternyata bukan tidak memiliki rencana, tetapi adalah: gagal dalam membuat rencana yang bagus.

    Seperti apa rencana yang bagus itu? Kalau dijawab dengan kesimpulan yang pendek, rencana yang bagus adalah rencana yang bisa kita jalankan dan telah terbukti membawa manfaat buat kita. Rencana yang bagus itu bukanlah rencana yang kita susun dengan kalimat yang memukau dan fantastis "bagusnya". Bahkan terkadang rencana yang bagus itu tidak identik dengan apakah rencana itu ditulis atau tidak. Ada sebagian orang yang sudah melatih otak dan intuisinya untuk membuat perencaan tanpa pakai tulisan dan nyatanya berjalan dengan bagus. Tetapi tidak sedikit pula yang sudah merumuskannya sedemikian rupa namun nyatanya rencana itu tinggal rencana. Tentu yang saya maksudkan di sini di luar konteks kehidupan organisasi atau tim.  


    Secara umum, ciri-ciri rencana yang bagus itu bisa dijabarkan antara lain:

    Pertama, rencana itu didasari oleh pengetahuan yang akurat tentang kemampuan kita dalam menjalankan rencana. Semua orang punya kemampuan, hanya memang kadar dan ukurannya berbeda-beda. Ibarat mesin, jika kekuatan mesin itu seratus tetapi kita bebani tugas yang mestinya dipikul oleh mesin berkapasitas seribu, ya kemungkinannya gagal. Karena itu, apa yang sering dikatakan orang bahwa pengetahuan-diri itu kunci, berlaku juga dalam perencanaan. Ini juga berlaku untuk perencaan pribadi ataupun 'company'.

    Bahkan ada yang mengatakan, sebanyak apapun kita mengetahui isi dunia ini namun jika tidak didukung pengetahuan-diri yang bagus, ini sama artinya dengan tidak mengetahui apapun. Wah, sedahsyat itu?  Ya. Alasannya sangat jelas. Pengetahuan kita tentang isi dunia ini (informasi, peluang, dst) akan berguna kalau digunakan. Untuk bisa menggunakan itu tentu kuncinya adalah mengetahui kadar kemampuan yang kita miliki. Karena itu, belajar dari temuan di manajemen, sebagian besar penyebab gagalnya rencana itu terletak pada kemampuan seseorang dalam menjalankan rencana (eksekusi), bukan pada rencananya.   

    Kedua, rencana itu didasari oleh pengetahuan yang akurat tentang sesuatu yang kita rencanakan. Pengetahun ini terkait dengan dua hal, yaitu: a) uji-realitas, dan b) faktor-faktor eksternal yang relevan. Katakanlah kita berencana untuk menekuni profesi / pekerjaan baru di tahun 2007 ini. Sekedar untuk menulisnya di komputer atau di atas kertas, apapun yang kita rencanakan itu memang sah-sah saja. Tetapi jika rencana itu ternyata belum cocok dengan kenyataan yang kita hadapi, atau karena ketidaktahuan kita, ya mungkin saja rencana kita akan mendek alias tidak jalan. Karena itu, banyak nasehat yang menyarankan agar kita memiliki plan B atau C. Ada pepatah yang mengatakan: "pikir dulu masak-masak baru membuat rencana." Berpikir masak di sini tentu maksudnya bukan berpikir terlalu lama (kelamaan mikir), tetapi memikirkan tingkat kesesuaian rencana dengan keadaan eksternal yang kita hadapi.

    Ketiga, rencana itu didasari oleh pengalaman dalam menjalankan rencana-rencana sebelumnya. Kita mungkin sudah sering mendengar istilah power of story. Istilah ini digunakan untuk menyebut keadaan mental seseorang yang dihasilkan dari pengalaman atas kemenangannya / keberhasilannya di masa lalu. Kalau kita terbiasa berhasil dalam menjalankan rencana di masa lalu, biasanya punya peluang berhasil yang jauh lebih besar. "Keberhasilan membuka jalan yang lebih lebar untuk keberhasilan baru."

    Agar kita memiliki power story yang banyak, makanya disarankan membuat rencana yang kira-kira tingkat keberhasilannya itu di atas 80 %. Caranya bagaimana? Selain butuh pengetahuan yang akurat, seperti yang sudah kita bahas di muka, dibutuhkan juga komitmen yang kuat untuk menjalankan rencana yang sudah kita buat. Pasalnya, sekali kita membiarkan tidak bisa menepati rencana yang telah kita bikin, lama-kelamaan ini akan menjadi kebiasaan.  

    Intinya, meminjam istilah dalam teori kompetensi, membuat perencaan yang bagus itu merupakan kompetensi atau kemampuan di mana ada skala di dalamnya. Skala ini bisa mulai dari yang terendah sampai ke yang tertinggi. Kalau kita membuat perencanaan asal membuat, asal menggoreskan pena, asal menuangkan keinginan dan khayalan, lalu sebagian besarnya gagal atau menjadi dokumen tak bernilai apapun,  mungkin saja skala kita masih rendah. Ini berarti kita perlu menajamkan kemampuan lagi.


    Mengaudit kegagalan

    Kenapa kita masih gagal dalam membuat rencana yang bagus? Sebagai bantuan untuk melakukan audit, coba anda cek ulang hal-hal di bawah ini:

    Pertama, level kesungguhan. Rencana itu jelas tidak berjalan sendiri. Agar rencana bisa berjalan, dibutuhkan energi atau dorongan untuk menjalankannya. Tentu ini sudah kita ketahui. Yang terkadang masih kerap kita lupakan adalah seberapa banyak dorongan atau energi yang kita curahkan untuk sebuah rencana?

    Besar-kecilnya energi (level kesungguhan) sangat berpengaruh pada gagal-berhasilnya sebuah rencana. Kalau orang berencana membuang sampah, tentu sampah itu tidak berjalan sendiri ke tong sampah. Agar sampah pindah, dibutuhkan tenaga, energi atau dorongan. Ini contoh kecil yang ditegaskan oleh Tom Peters tentang pentingnya sebuah energi.

    Berbicara soal energi atau dorongan ini, tentu ada tingkatannya. Kalau meminjam istilah yang dipakai Dave Francis & Mike Woodcock dalam bukunya The Unblocked Manager (1982), ada orang yang hanya punya dorongan atau keinginan mulut (superficial). Kita sudah menyusun rencana sedemikian rupa namun keinginan kita untuk menjalankannya setengah-setengah atau tidak utuh. Ibarat memotong kayu, biarpun alat kita bagus, tehnik kita bagus, dan rencana kita bagus, namun kalau kita memotongnya setengah hati, sulit diharapkan rencana itu akan terwujud.

    Level keinginan kedua disebut underlined. Kita sudah membuat perencanaan dengan alasan-alasan yang cukup mendasar, dan sudah menjalankannya, namun masih kurang sustainable (berkelanjutan). Dibilang sudah bagus memang sudah bagus jika dibanding dengan yang superficial itu, namun kalau yang kita inginkan hasil yang lebih bagus lagi, maka yang kita butuhkan adalah level kesungguhan yang lebih tinggi, yaitu sustainable.

    Artinya, kita perlu menyusun rencana sebagai bentuk kelanjutan dari yang sudah pernah kita rencanakan, menjalankan rencana itu berdasarkan aktivitas harian, dan menjalankannya sepenuh hati. Jika kita sudah berhasil punya kesungguhan di level ini, sampai pun rencana kita belum berhasil, biasanya kita akan mendapatkan hal lain yang nilainya sama atau yang lebih bagus.

    Kedua, kelengkapan. Untuk menjalankan sebuah rencana itu dibutuhkan pula alat, teknologi, resource, fasilitas, atau modal. Ini kerapkali bukan penentu (determinant factor), tetapi menjadi penunjang keberhasilan (supportive) atau syarat utama. Dalam hal ini, gagalnya sebuah rencana itu umumnya terkait dengan dua hal: a) kita kurang mengoptimalkan penggunaan alat atau resource yang sudah ada, atau b)kita membuat perencanaan yang membutuhkan alat atau resource yang tidak kita miliki. 

    Terkait dengan kelengkapan ini, mungkin yang penting untuk diaudit adalah: sudahkah kita membuat perencanaan yang benar-benar sesuai dengan resource yang ada di kita atau yang bisa kita gunakan meski itu bukan milik kita. Menyesuaikan rencana dan kelengkapan inilah yang termasuk esensi menajamen.

    Kita ingat bahwa salah satu esensi manajemen itu adalah menyiasati keterbatasan (limiting factor). Semua orang menghadapi keterbatasan; tidak ada manusia yang punya resource berlebih berdasarkan keadaannya. Kalau konteknya usaha, keterbatasan itu antara lain: a) material, b) finansial, c) SDM, dan d) kontrol terhadap faktor eksternal. Nah, manajemen punya tugas untuk menciptakan aksi yang dapat menyiasati keterbatasan itu.

    Ketiga, kesesuaian metode dan lingkungan. Menjalankan rencana itu dibutuhkan metode, cara, tehnik yang cocok untuk lingkungan yang cocok dan orang yang pas. Sekedar untuk ingin tahu tip, tehnik atau resep yang umum-umum, ini banyak. Cuma, memilih yang cocok dengan kita dan keadaan yang melingkupi kita inilah yang tidak selalu sederhana. Seperti kata seorang musikus ternama, tehnik bermain gitar yang paling bagus itu adalah tehnik yang kita temukan sendiri.

    Menurut saran David Sirota dan Michael Irwin, dua kolomnis Harvard Management Update ini, dibutuhkan apa yang sebut scanning. Scanning di sini kira-kira maksudnya adalah kita membuat semacam potret lingkungan dan potret diri di alam pikiran kita berdasarkan informasi dan pengetahuan yang kita miliki. Sebetulnya, kata dua orang itu, semua orang telah melakukan scanning. Bedanya, ada yang melakukannya secara aktif dan ada yang melakukannya secara pasif. Active scanning biasanya dilakukan berdasarkan pertanyaan-pertanyaan mendasar, misalnya: apa yang bisa saya lakukan berdasarkan keadaan saya (internal dan eksternal)? Sementara, passive scanning umumnya hanya berdasarkan "katanya-katanya" yang tidak jelas.

    Nah, terkait dengan memilih metode, teknik dan lingkungan itu, mungkin tidak ada cara yang lebih tepat selain harus melakukan pembelajaran (learning) dengan resiko terkadang harus ada yang salah. Learning yang dimaksud di sini adalah proses pengembangan diri dan perbaikan melalui serangkaian aktivitas yang kita lakukan. Learning adalah perubahan pada prilaku, kebiasaan dan budaya melalui pengalaman atau praktek (pengetahuan dan skill).

    Kalau mau pakai pemikiran Robert J. Stenberg, menemukan tehnik atau metode yang bagus itu terkait dengan apa yang disebut dengan Tacit Knowledge. Pengetahuan ini memiliki ciri-ciri antara lain: a) pengetahuan ini adalah sebuah prosedur  di dalam diri seseorang tentang bagaimana sesuatu harus dikerjakan, b) pengetahuan ini merupakah buah dari pembelajaran-diri bukan buah dari diajar oleh pihak lain, dan c)  pengetahuan ini bersifat sangat pribadi.


    Jebakan dalam membuat perencanaan

    Seperti biasa, semua stretegi ada jebakannya. Planning sebagai strategi dalam menjalani hidup pun ada jebakannya. Di antara jebakan itu adalah misalnya:

    Pertama, terlalu kaku dan terlalu "mate-matis". Jangan sampai kita malah menjadi orang yang kaku dalam menghadapi realitas gara-gara punya rencana. Esensi dari perencanaan adalah bantuan (an aid to performance) untuk menjalani hidup ini. Dengan memiliki rencana yang bagus diharapkan hidup kita lebih teratur dalam menggunakan waktu dan lebih "fulfille" dalam menggunakan potensi yang kita miliki sehingga kita bisa merealisasikan tujuan-tujuan penting menurut hidup kita masing-masing.

    Menjalankan rencana di lapangan itu mirip seperti yang dikatakan Bruce Lee. "Saat anda sedang bertempur, jangan lagi menghafal buku panduan. Fokuskan pada bagaimana bertempur dan bersiasat." Artinya, memiliki rencana itu perlu, tetapi dalam menjalankannya harus seirama dengan realitas atau masalah yang kita hadapi. Jangan sampai kita terpukul oleh masalah gara-gara menghafal rencana.

    Kedua, memberangus intuisi dan kreativitas. Kerapkali kita ditantang untuk memutuskan sesuatu yang cepat tetapi tidak / belum memiliki informasi yang lengkap. Bekal yang diberikan Tuhan untuk menghadapi ini adalah intuisi, feeling, kata hati, kecondongan naluri, dan semisalnya. Meminjam istilah Nick Tasler, kita perlu belajar thingking without thingking (berpikir tanpa harus mikir terlalu lama). Nah, jangan sampai gara-gara terlalu menghafal rencana sehingga kita lupa menajamkan intuisi. Milikilah rencana tetapi tajamkan juga intuisi dan kreativitas.

    Ketiga, menjadi orang egois gara-gara punya rencana. Punya rencana hidup yang mandiri, ini tentu OK. Tetapi bila hanya rencana kita yang selalu kita pikirkan lalu mengabaikan hal-hal yang terkait dengan kebaikan hubungan kita dengan orang lain, ini tentu tidak OK. Biasanya, hal-hal yang melanggar kode etik kehidupan itu malah membuat langkah kita terhambat atau tidak lancar.

    Keempat, rencana tanpa sasaran yang jelas. Jangan lupa mencantumkan sasaran dari rencana yang anda buat. Ini selain dapat membuat kita fleksibel, pun juga berfungsi sebagai ukuran atau standar. Kenapa sasaran bisa membuat kita menjadi lebih fleksibel? Kalau sasaran kita jelas, biasanya kita tidak terlalu memati-matika-kan tehnik. Tehnik itu bisa berubah berdasarkan keadaan, tetapi hendaknya tujuan kita harus tetap.

    Kelima, bongkar pasang rencana karena nafsu sesaat. Sebetulnya tidak ada masalah kita mengganti rencana (plan B atau plan C) sejauh itu kita lakukan dengan pertimbangan dan alasan yang jelas. Yang kerap menghambat langkah kita adalah ketika kita suka bongkar-pasang rencana hanya karena nafsu, tidak didasari pertimbangan, alasan dan tujuan yang jelas.

    Bagaimana kalau kita sudah membuat rencana, sudah menjalankan rencana, sudah memiliki sasaran dari setiap rencana, namun tetap saja banyak yang gagal? Terkadang kita perlu berpikir bahwa sejauh hidup kita itu berubah ke arah yang lebih bagus, itu masih positif. Apa yang dipesankan orang bijak itu lebih sering masih berlaku: "Sejauh kau mengoptimalkan penggunaan waktu, potensi, resource yang kami miliki, maka kau akan mendapatkan keinginanmu. Jika keinginanmu belum kau dapatkan, kau pasti akan mendapatkan keinginan lain yang nilainya sama atau bahkan lebih bagus." "Sebagian besar kesuksesan muncul dari kegagalan. Saya menjadi seorang kartunis karena saya gagal meraih tujuan saya menjadi eksekutif", begitu kata Scott Adams, seorang kartunis Amerika.

    Memupuk Rasa Percaya Diri



    Pernahkah anda mengalami krisis kepercayaan diri atau dalam bahasa sehari-hari "tidak pede" dalam menghadapi suatu situasi atau persoalan? Saya yakin hampir setiap orang pernah mengalami krisis kepercayaan diri dalam rentang kehidupannya, sejak masih anak-anak hingga dewasa bahkan sampai usia lanjut. Ruang konseling di website inipun banyak diwarnai dengan pertanyaan seputar kasus-kasus yang berhubungan dengan krisis kepercayaan diri tersebut. Sudah tentu, hilangnya rasa percaya diri menjadi sesuatu yang amat mengganggu, terlebih ketika dihadapkan pada tantangan atau pun situasi baru. Individu sering berkata pada diri sendiri, "dulu saya tidak penakut seperti ini....kenapa sekarang jadi begini ?" ada juga yang berkata: "kok saya tidak seperti dia,...yang selalu percaya diri...rasanya selalu saja ada yang kurang dari diri saya...saya malu menjadi diri saya!"
    Menyikapi kondisi seperti tersebut diatas maka akan muncul pertanyaan dalam benak kita: mengapa rasa percaya diri begitu penting dalam kehidupan individu. Lalu apakah kurangnya rasa percaya diri dapat diperbaiki sehingga tidak menghambat perkembangan individu dalam menjalankan tugas sehari-hari maupun dalam hubungan interpersonal. Jika memang rasa kurnag percaya diri dapat diperbaiki, langkah-langkah apakah yang harus dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan saya jawab dalam artikel ini.
    Kepercayaan Diri
    Kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang diri, alias "sakti". Rasa percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu tersebut dimana ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu dan percaya bahwa dia bisa - karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri.

    Beberapa ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri yang proporsional, diantaranya adalah :
    • Percaya akan kompetensi/kemampuan diri, hingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, atau pun rasa hormat orang lain
    • Tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok
    • Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain - berani menjadi diri sendiri
    • Punya pengendalian diri yang baik (tidak moody dan emosinya stabil)
    • Memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan, tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak tergantung/mengharapkan bantuan orang lain)
    • Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, ornag lain dan situasi di luar dirinya
    • Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan itu tidak terwujud, ia tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi.

    Beberapa ciri atau karakteristik individu yang kurang percaya diri, diantaranya adalah:
    • Berusaha menunjukkan sikap konformis, semata-mata demi mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok
    • Menyimpan rasa takut/kekhawatiran terhadap penolakan
    • Sulit menerima realita diri (terlebih menerima kekurangan dir) dan memandang rendah kemampuan diri sendiri - namun di lain pihak memasang harapan yang tidak realistik terhadap diri sendiri
    • Pesimis, mudah menilai segala sesuatu dari sisi negatif
    • Takut gagal, sehingga menghindari segala resiko dan tidak berani memasang target untuk berhasil
    • Cenderung menolak pujian yang ditujukan secara tulus (karena undervalue diri sendiri)
    • Selalu menempatkan/memposisikan diri sebagai yang terakhir, karena menilai dirinya tidak mampu
    • Mempunyai external locus of control (mudah menyerah pada nasib, sangattergantung pada keadaan dan pengakuan/penerimaan serta bantuan orang lain)

    Perkembangan Rasa Percaya Diri
    Pola Asuh
    Para ahli berkeyakinan bahwa kepercayaan diri bukanlah diperoleh secara instant, melainkan melalui proses yang berlangsung sejak usia dini, dalam kehidupan bersama orangtua. Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri seseorang, namun faktor pola asuh dan interaksi di usia dini, merupakan faktor yang amat mendasar bagi pembentukan rasa percaya diri.Sikap orangtua, akan diterima oleh anak sesuai dengan persepsinya pada saat itu. orangtua yang menunjukkan kasih, perhatian, penerimaan, cinta dan kasih sayang serta kelekatan emosional yang tulus dengan anak, akan membangkitkan rasa percara diri pada anak tersebut. Anak akan merasa bahwa dirinya berharga dan bernilai di mata orangtuanya. Dan, meskipun ia melakukan kesalahan, dari sikap orangtua anak melihat bahwa dirinya tetaplah dihargai dan dikasihi. Anak dicintai dan dihargai bukan tergantung pada prestasi atau perbuatan baiknya, namun karena eksisitensinya. Di kemudian hari anak tersebut akan tumbuh menjadi individu yang mampu menilai positif dirinya dan mempunyai harapan yang realistik terhadap diri - seperti orangtuanya meletakkan harapan realistik terhadap dirinya.
    Lain halnya dengan orangtua yang kurang memberikan perhatian pada anak, atau suka mengkritik, sering memarahi anak namun kalau anak berbuat baik tidak pernah dipuji, tidak pernah puas dengan hasil yang dicapai oleh anak, atau pun seolah menunjukkan ketidakpercayaan mereka pada kemampuan dan kemandirian anak dengan sikap overprotective yang makin meningkatkan ketergantungan. Tindakan overprotective orangtua, menghambat perkembangan kepercayaan diri pada anak karena anak tidak belajar mengatasi problem dan tantangannya sendiri - segala sesuatu disediakan dan dibantu orangtua. Anak akan merasa, bahwa dirinya buruk, lemah, tidak dicintai, tidak dibutuhkan, selalu gagal, tidak pernah menyenangkan dan membahagiakan orangtua. Anak akan merasa rendah diri di mata saudara kandungnya yang lain atau di hadapan teman-temannya.
    Menurut para psikolog, orangtua dan masyarakat seringkali meletakkan standar dan harapan yang kurang realistik terhadap seorang anak atau pun individu. Sikap suka membanding-bandingkan anak, mempergunjingkan kelemahan anak, atau pun membicarakan kelebihan anak lain di depan anak sendiri, tanpa sadar menjatuhkan harga diri anak-anak tersebut. Selain itu, tanpa sadar masyarakat sering menciptakan trend yang dijadikan standar patokan sebuah prestasi atau pun penerimaan sosial. Contoh kasus yang riil pernah terjadi di tanah air, ketika seorang anak bunuh diri gara-gara dirinya tidak diterima masuk di jurusan A1 (IPA), meski dia sudah bersekolah di tempat yang elit; rupanya sang orangtua mengharap anaknya diterima di A1 atau paling tidak A2, agar kelak bisa menjadi dokter. Atau, orangtua yang memaksakan anaknya ikut les ini dan itu, hanya karena anak-anak lainnya pun demikian.
    Situasi ini pada akhirnya mendorong anak tumbuh menjadi individu yang tidak bisa menerima kenyataan dirinya, karena di masa lalu (bahkan hingga kini), setiap orang mengharapkan dirinya menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri. Dengan kata lain, memenuhi harapan sosial. Akhirnya, anak tumbuh menjadi individu yang punya pola pikir : bahwa untuk bisa diterima, dihargai, dicintai, dan diakui, harus menyenangkan orang lain dan mengikuti keinginan mereka. Pada saat individu tersebut ditantang untuk menjadi diri sendiri - mereka tidak punya keberanian untuk melakukannya. Rasa percaya dirinya begitu lemah, sementara ketakutannya terlalu besar.

    Pola Pikir Negatif
    Dalam hidup bermasyarakat, setiap individu mengalami berbagai masalah, kejadian, bertemu orang-orang baru, dsb. Reaksi individu terhadap seseorang atau pun sebuah peristiwa, amat dipengaruhi oleh cara berpikirnya. Individu dengan rasa percaya diri yang lemah, cenderung mempersepsi segala sesuatu dari sisi negatif. Ia tidak menyadari bahwa dari dalam dirinya lah semua negativisme itu berasal. Pola pikir individu yang kurang percaya diri, bercirikan antara lain:
    • Menekankan keharusan-keharusan pada diri sendiri ("saya harus bisa begini...saya harus bisa begitu"). Ketika gagal, individu tersebut merasa seluruh hidup dan masa depannya hancur.
    • Cara berpikir totalitas dan dualisme : "kalau saya sampai gagal, berarti saya memang jelek"
    • Pesimistik yang futuristik : satu saja kegagalan kecil, individu tersebut sudah merasa tidak akan berhasil meraih cita-citanya di masa depan. Misalnya, mendapat nilai C pada salah satu mata kuliah, langsung berpikir dirinya tidak akan lulus sarjana.
    • Tidak kritis dan selektif terhadap self-criticism : suka mengkritik diri sendiri dan percaya bahwa dirinya memang pantas dikritik.
    • Labeling : mudah menyalahkan diri sendiri dan memberikan sebutan-sebutan negatif, seperti "saya memang bodoh"..."saya ditakdirkan untuk jadi orang susah", dsb....
    • Sulit menerima pujian atau pun hal-hal positif dari orang lain : ketika orang memuji secara tulus, individu langsung merasa tidak enak dan menolak mentah-mentah pujiannya. Ketika diberi kesempatan dan kepercayaan untuk menerima tugas atau peran yang penting, individu tersebut langsung menolak dengan alasan tidak pantas dan tidak layak untuk menerimanya.
    • Suka mengecilkan arti keberhasilan diri sendiri : senang mengingat dan bahkan membesar-besarkan kesalahan yang dibuat, namun mengecilkan keberhasilan yang pernah diraih. Satu kesalahan kecil, membuat individu langsung merasa menjadi orang tidak berguna.

    Memupuk Rasa Percaya Diri
    Untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang proporsional maka individu harus memulainya dari dalam diri sendiri. Hal ini sangat penting mengingat bahwa hanya individu yang bersangkutan yang dapat mengatasi rasa kurang percaya diri yang sedang dialaminya. Beberapa saran berikut mungkin layak menjadi pertimbangkan jika anda sedang mengalami krisis kepercayaan diri.
    1. Evaluasi diri secara obyektif
    Belajar menilai diri secara obyektif dan jujur. Susunlah daftar "kekayaan" pribadi, seperti prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri baik yang sudah diaktualisasikan maupun yang belum, keahlian yang dimiliki, serta kesempatan atau pun sarana yang mendukung kemajuan diri. Sadari semua asset-asset berharga Anda dan temukan asset yang belum dikembangkan. Pelajari kendala yang selama ini menghalangi perkembangan diri Anda, seperti : pola berpikir yang keliru, niat dan motivasi yang lemah, kurangnya disiplin diri, kurangnya ketekunan dan kesabaran, tergantung pada bantuan orang lain, atau pun sebab-sebab eksternal lain. Hasil analisa dan pemetaan terhadap SWOT (Strengths, Weaknesses, Obstacles and Threats) diri, kemudian digunakan untuk membuat dan menerapkan strategi pengembangan diri yang lebih realistik.
    2. Beri penghargaan yang jujur terhadap diri
    Sadari dan hargailah sekecil apapun keberhasilan dan potensi yang anda miliki. Ingatlah bahwa semua itu didapat melalui proses belajar, berevolusi dan transformasi diri sejak dahulu hingga kini. Mengabaikan/meremehkan satu saja prestasi yang pernah diraih, berarti mengabaikan atau menghilangkan satu jejak yang membantu Anda menemukan jalan yang tepat menuju masa depan. Ketidakmampuan menghargai diri sendiri, mendorong munculnya keinginan yang tidak realistik dan berlebihan; contoh: ingin cepat kaya, ingin cantik, populer, mendapat jabatan penting dengan segala cara. Jika ditelaah lebih lanjut semua itu sebenarnya bersumber dari rasa rendah diri yang kronis, penolakan terhadap diri sendiri, ketidakmampuan menghargai diri sendiri - hingga berusaha mati-matian menutupi keaslian diri.
    3. Positive thinking
    Cobalah memerangi setiap asumsi, prasangka atau persepsi negatif yang muncul dalam benak Anda. Anda bisa katakan pada diri sendiri, bahwa nobodys perfect dan its okay if I made a mistake. Jangan biarkan pikiran negatif berlarut-larut karena tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar, bercabang dan berdaun. Semakin besar dan menyebar, makin sulit dikendalikan dan dipotong. Jangan biarkan pikiran negatif menguasai pikiran dan perasaan Anda. Hati-hatilah agar masa depan Anda tidak rusak karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh pikiran keliru. Jika pikiran itu muncul, cobalah menuliskannya untuk kemudian di re-view kembali secara logis dan rasional. Pada umumnya, orang lebih bisa melihat bahwa pikiran itu ternyata tidak benar.
    4. Gunakan self-affirmation
    Untuk memerangi negative thinking, gunakan self-affirmation yaitu berupa kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri. Contohnya:
    • Saya pasti bisa !!
    • Saya adalah penentu dari hidup saya sendiri. Tidak ada orang yang boleh menentukan hidup saya !
    • Saya bisa belajar dari kesalahan ini. Kesalahan ini sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga karena membantu saya memahami tantangan
    • Sayalah yang memegang kendali hidup ini
    • Saya bangga pada diri sendiri
    5. Berani mengambil resiko
    Berdasarkan pemahaman diri yang obyektif, Anda bisa memprediksi resiko setiap tantangan yang dihadapi. Dengan demikian, Anda tidak perlu menghindari setiap resiko, melainkan lebih menggunakan strategi-strategi untuk menghindari, mencegah atau pun mengatasi resikonya. Contohnya, Anda tidak perlu menyenangkan orang lain untuk menghindari resiko ditolak. Jika Anda ingin mengembangkan diri sendiri (bukan diri seperti yang diharapkan orang lain), pasti ada resiko dan tantangannya. Namun, lebih buruk berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa daripada maju bertumbuh dengan mengambil resiko. Ingat: No Risk, No Gain.
    6. Belajar mensyukuri dan menikmati rahmat Tuhan
    Ada pepatah mengatakan yang mengatakan orang yang paling menderita hidupnya adalah orang yang tidak bisa bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah diterimanya dalam hidup. Artinya, individu tersebut tidak pernah berusaha melihat segala sesuatu dari kaca mata positif. Bahkan kehidupan yang dijalaninya selama ini pun tidak dilihat sebagai pemberian dari Tuhan. Akibatnya, ia tidak bisa bersyukur atas semua berkat, kekayaan, kelimpahan, prestasi, pekerjaan, kemampuan, keahlian, uang, keberhasilan, kegagalan, kesulitan serta berbagai pengalaman hidupnya. Ia adalah ibarat orang yang selalu melihat matahari tenggelam, tidak pernah melihat matahari terbit. Hidupnya dipenuhi dengan keluhan, rasa marah, iri hati dan dengki, kecemburuan, kekecewaan, kekesalan, kepahitan dan keputusasaan. Dengan "beban" seperti itu, bagaimana individu itu bisa menikmati hidup dan melihat hal-hal baik yang terjadi dalam hidupnya? Tidak heran jika dirinya dihinggapi rasa kurang percaya diri yang kronis, karena selalu membandingkan dirinya dengan orang-orang yang membuat "cemburu" hatinya. Oleh sebab itu, belajarlah bersyukur atas apapun yang Anda alami dan percayalah bahwa Tuhan pasti menginginkan yang terbaik untuk hidup Anda.
    7. Menetapkan tujuan yang realistik
    Anda perlu mengevaluasi tujuan-tujuan yang Anda tetapkan selama ini, dalam arti apakah tujuan tersebut sudah realistik atau tidak. Dengan menerapkan tujuan yang lebih realistik, maka akan memudahkan anda dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian anda akan menjadi lebih percaya diri dalam mengambil langkah, tindakan dan keputusan dalam mencapai masa depan, sambil mencegah terjadinya resiko yang tidak diinginkan.
    Mungkin masih ada beberapa cara lain yang efektif untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Jika anda dapat melakukan beberapa hal serpti yang disarankan di atas, niscaya anada akan terbebas dari krisis kepercayaan diri. Namun demikian satu hal perlu diingat baik-baik adalah jangan sampai anda mengalami over confidence atau rasa percaya diri yang berlebih-lebihan/overdosis. Rasa percaya diri yang overdosis bukanlah menggambar kondisi kejiwaan yang sehat karena hal tersebut merupakan rasa percaya diri yang bersifat semu.
    Rasa percaya diri yang berlebihan pada umumnya tidak bersumber dari potensi diri yang ada, namun lebih didasari oleh tekanan-tekanan yang mungkin datang dari orangtua dan masyarakat (sosial), hingga tanpa sadar melandasi motivasi individu untuk "harus" menjadi orang sukses. Selain itu, persepsi yang keliru pun dapat menimbulkan asumsi yang keliru tentang diri sendiri hingga rasa percaya diri yang begitu besar tidak dilandasi oleh kemampuan yang nyata. Hal ini pun bisa didapat dari lingkungan di mana individu di besarkan, dari teman-teman (peer group) atau dari dirinya sendiri (konsep diri yang tidak sehat). Contohnya, seorang anak yang sejak lahir ditanamkan oleh orangtua, bahwa dirinya adalah spesial, istimewa, pandai, pasti akan menjadi orang sukses, dsb - namun dalam perjalanan waktu anak itu sendiri tidak pernah punya track record of success yang riil dan original (atas dasar usahanya sendiri). Akibatnya, anak tersebut tumbuh menjadi seorang manipulator dan dan otoriter - memperalat, menguasai dan mengendalikan orang lain untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Rasa percaya diri pada individu seperti itu tidaklah didasarkan oleh real competence, tapi lebih pada faktor-faktor pendukung eksternal, seperti kekayaan, jabatan, koneksi, relasi, back up power keluarga, nama besar orangtua, dsb. Jadi, jika semua atribut itu ditanggalkan, maka sang individu tersebut bukan siapa-siapa.